• Biharul Ulum Sekolah di Likupang yang Butuh Asupan Tenaga Pengajar

     

    Biharul Ulum Sekolah di Likupang yang Membutuhkan Tenaga Pengajar



    Idealnya sebuah sekolah tingkat menengah, maka tenaga pendidik haruslah mencukupi dari jumlah mapel yang diajarkan. Jika jumlah tenaga pendidik saja kurang, maka akan berdampak pada kualitas pendidikan di sekolah tersebut. Padahal dalam undang – undang pendidikan disebutkan bahwa pemerintah menjamin pemerataan pendidikan di Indonesia. Maka yang terjadi di Biharul Ulum adalah salah satu bukti bagaimana pendidikan Indonesia masih belum merata, yaitu dengan adanya bukti bahwa kurangnya tenaga pengajar di MTs dan MA tersebut.

    Madrasah Biharul Ulum sendiri terletak di daerah Likupang tepatnya di kabupaten Minahasa Utara provinsi Sulawesi Utara. Sekolah yang berada di desa Maen tersebut menampung masyarakat desa Maen dan juga daerah kampung Ambong Likupang sebagai satu – satunya sekolah Islam di daerah tersebut. Maka sekolah ini menjadi harapan untuk pengajaran agama Islam selain daripada pengajian di rumah maupun di masjid.

    Sekolah Biaharul Ulum sebenarnya sudah memiliki fasilitas ruang belajar yang memadai. Dari ruang kelas yang cukup, kemudian adanya musholla sekolah dan juga ruang kantor di sekolah tersebut. Selain itu jumlah siswa juga sudah cukup memenuhi standar kelas melihat jumlah siswa yang lulus dari SD di desa tersebut tidak begitu banyak. Namun, permasalahan utamanya adalah kurangnya tenaga pendidik yang aktif mengajar.



    Kondisi tenaga pendidik dan juga tenaga kependidikan

    Jika dihitung dari jumlah tenaga pengajar dan juga tenaga kependidikn yang ada maka hanya ada 1 guru bahasa Indonesia, 1 guru olahraga, 1 guru bahasa inggris, 1 guru matematika dan 1 guru Bahasa Arab, yang semuanya itu mengajar MTs dan juga MA Biharul Ulum. Sebenarnya, berbagai upaya sudah dilakukan untuk menambah guru di sekolah tersebut. Mulai dari mencari lulusan pendidikan dari kampus di Manado, menarik guru lulusan dari pulau jawa, Maupun menawarkan warga sekitar yang ingin membantu mengajar. Tetapi, banyak dari mereka yang tidak bertahan lama di sekolah karena memang tuntutan ekonomi baik untuk diri mereka sendiri maupun kebutuhan keluarga. Alhasil, jam belajar yang terlaksana tidak full satu hari. Mungkin jika dihitung mereka belajar dari pukul 08.00 hingga pukul 11.00 WITA itupun jika guru full masuk mengajar.



    Tetapi selain daripada masalah diatas, patutlah kita acungi jempol. Bagaimana semangat dari ketua yayasan, supaya sekolah itu masih terus beroperasi dan mampu mencetak generasi Islam di daerah minoritas, khususnya kabupaten Minahasa Utara. Disisi lain, sekolah ini sebenarnya memiliki modal siswa yang memiliki mental yang kuat serta kecerdasan alami. Oleh karena itu yang bisa dilakukan sekarang adalah bagaimana dengan SDM yang ada mampu mengelola sumber permata di sekolah tersebut sehingga memiliki kualifikasi lulusan yang tinggi. Terakhir saya ucapkan Sukses selalu untuk sekolah ini, semakin maju dan guru – guru yang masih bertahan disini diberikan kesehatan dan umur panjang. Amin ..........

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.